Saturday, January 31, 2009
Aku Hanya Lupa
Setelah semua ku alami, rasanya ingin lagi aku duduk santai di bawah pohon ketapi yang sejuk, di pinggir sungai kecil tempat dimana aku dulu terbiasa menghabiskan hari agar tidak terlalu membosankan. Sambil melakukan pembicaraan santai bersama Helda, Irma, Sella, dan Lidia. Atau tidur-tiduran setelah melakukan pekerjaan ringan bersama Heri, Rio, juga Hami. Tentu semua itu tidak terlalu berlebihan, apalagi jika dibandingkan dengan segala yang tengah ku lakoni.
Lekaslah, panggil aku lagi. Ajak aku bercerita tentang hal-hal yang paling biasa di antara kita, pembicaraan yang paling sederhana, agar kita sama-sama bisa mengerti.
Sekarang mungkin aku lupa, diam saja dan tak banyak bicara. Tapi tenanglah, aku bukan orang yang begitu saja mudah terbawa oleh irama kehidupan di luar tradisi kita. Aku akan tetap menjadi salah satu bagian dari peranan yang telah lama kita tentukan, dan aku akan tetap cinta...
* teringat ketika kita masih sering menikmati sapuan angin di atas tanah merah pembataan, sekalian menyanyikan lagu untuk memanggil undur-undur agar segera keluar dari tidurnya yang lelap
Lekaslah, panggil aku lagi. Ajak aku bercerita tentang hal-hal yang paling biasa di antara kita, pembicaraan yang paling sederhana, agar kita sama-sama bisa mengerti.
Sekarang mungkin aku lupa, diam saja dan tak banyak bicara. Tapi tenanglah, aku bukan orang yang begitu saja mudah terbawa oleh irama kehidupan di luar tradisi kita. Aku akan tetap menjadi salah satu bagian dari peranan yang telah lama kita tentukan, dan aku akan tetap cinta...
* teringat ketika kita masih sering menikmati sapuan angin di atas tanah merah pembataan, sekalian menyanyikan lagu untuk memanggil undur-undur agar segera keluar dari tidurnya yang lelap
Sunday, January 18, 2009
Atau aku yang terlalu perasa?
Entah aku yang sedikit berubah, atau hanya sebuah transisi dari tradisi yang agak berbeda. Jelasnya semua terasa menjadi lebih kaku, lebih asing di telinga dan sudut pandangku. Tentu aku, kamu, semua pasti berubah dalam kerangkeng waktu. Tapi apa seperasa ini? Ataukah aku yang terlalu perasa?
Wednesday, January 14, 2009
Sunday, January 4, 2009
Cerita Kecil
Mungkin kau hanya sepenggal cerita yang pernah terukir dalam sepi jiwaku. Kapan saja bisa hilang, hanyut dibawa angin dari tenggara. Pada waktu-waktu yang telah kita lewati. Seperti kau biasa datang ke peraduanmu dengan keluh kesah yang terlihat palsu.
Aku bukannya tak kenal dengan suara tangis dan air matamu. Menghujamku dengan segala penyesalan atas kata-kata yang bila dibaca, semua setan pasti tertawa. Semua orang waras juga mengakui kalau cinta bukanlah hal yang dapat dipaksakan.
Sudah, cukuplah kau simpan cerita kecil ini dalam ruang pikiranmu yang paling dalam. Atau biarkan sekalinya kau lepas bersama sapuan ombak di pantai birumu.
* sekali lagi maaf...
Aku bukannya tak kenal dengan suara tangis dan air matamu. Menghujamku dengan segala penyesalan atas kata-kata yang bila dibaca, semua setan pasti tertawa. Semua orang waras juga mengakui kalau cinta bukanlah hal yang dapat dipaksakan.
Sudah, cukuplah kau simpan cerita kecil ini dalam ruang pikiranmu yang paling dalam. Atau biarkan sekalinya kau lepas bersama sapuan ombak di pantai birumu.
* sekali lagi maaf...
Friday, January 2, 2009
Kuingin
Seribu rindu, terbang bersama angin dalam nyanyian malam sendu
Serangkai kata hanya sebagai pertanda untuk bicara
Manusia pun sudah mulai pandai berpura-pura
Masih memikirkan tentang purnama,
dibalut gelisah pada ukiran hati yang terlena
Dan aku, kau, aku ingin terjebak dalam derita
Biar semua kembali pada keadaan yang semestinya
Dekap aku, bawa aku dalam mimpimu
Serangkai kata hanya sebagai pertanda untuk bicara
Manusia pun sudah mulai pandai berpura-pura
Masih memikirkan tentang purnama,
dibalut gelisah pada ukiran hati yang terlena
Dan aku, kau, aku ingin terjebak dalam derita
Biar semua kembali pada keadaan yang semestinya
Dekap aku, bawa aku dalam mimpimu
Thursday, January 1, 2009
tahun baru katanya
malam ini, kuhabiskan waktuku dalam gelak tawa dari wajah-wajah terpaksa. hmh, selamat tahun baru...
Friday, December 26, 2008
Diam-Diam Kukatakan Padamu
Mendengarkan celoteh tentang kejadian yang kalian alami di Banjarbaru tanpa kehadiranku, sepertinya lebih menarik daripada aku harus bicara tentang keseharianku menyusuri jalan kompleks apartemen menuju kampus biruku. Apalagi tentang sopir taksi Tamil yang sukanya menaikkan tarif menjadi sangat sulit diterima akal pikiran manusia-manusia normal seperti kalian.
Aku tak pernah bosan bicara soal Banjarbaru kita yang panas. Orang-orang yang terbiasa dengan sapuan debu dari truk-truk batubara yang kapan saja bisa membentur kepala anak-anak kampung Sungai Besar, lalu kabur begitu saja.
Lima belas menit lagi seharusnya menjadi waktu yang paling kita tunggu pada satu atau dua tahun silam.
Aku jadi teringat lagi dengan penunggu Minggu Raya yang paling terkenal se-Kota Idaman. Bagaimana tidak, kurasa semua lelaki yang telah singgah di sana pernah digodanya. Hih!! Andai aku tak takut pada apa-apa, kupenggalkan saja kepalanya, lantas kupajang di depan rumah Pak Wali yang terhormat itu.
Banyak sudah yang kita lewati di Banjarbaru kita, lama sudah kita lalui. Lalu diam-diam kukatakan padamu, "bagaimana jika persimpangan jalan ini merupakan tempat terakhir pertemuan kita? apa kau akan tetap mengingatku sampai habis waktunya nanti? apa kau masih mau mengingat dan menelaah setiap kata yang pernah terucap dari mulutku? apa kau akan tetap setia dengan lagu-lagu yang biasa kita nyanyikan ketika menyambut fajar, ketika menunggu senja, ketika purnama, ketika segala perkara menyatu dalam egoisme yang sama?"
Aku tak pernah bosan bicara soal Banjarbaru kita yang panas. Orang-orang yang terbiasa dengan sapuan debu dari truk-truk batubara yang kapan saja bisa membentur kepala anak-anak kampung Sungai Besar, lalu kabur begitu saja.
Lima belas menit lagi seharusnya menjadi waktu yang paling kita tunggu pada satu atau dua tahun silam.
Aku jadi teringat lagi dengan penunggu Minggu Raya yang paling terkenal se-Kota Idaman. Bagaimana tidak, kurasa semua lelaki yang telah singgah di sana pernah digodanya. Hih!! Andai aku tak takut pada apa-apa, kupenggalkan saja kepalanya, lantas kupajang di depan rumah Pak Wali yang terhormat itu.
Banyak sudah yang kita lewati di Banjarbaru kita, lama sudah kita lalui. Lalu diam-diam kukatakan padamu, "bagaimana jika persimpangan jalan ini merupakan tempat terakhir pertemuan kita? apa kau akan tetap mengingatku sampai habis waktunya nanti? apa kau masih mau mengingat dan menelaah setiap kata yang pernah terucap dari mulutku? apa kau akan tetap setia dengan lagu-lagu yang biasa kita nyanyikan ketika menyambut fajar, ketika menunggu senja, ketika purnama, ketika segala perkara menyatu dalam egoisme yang sama?"
Selamat Pagi :)
Pukul sebelas pagi, manusia seakan kehilangan tenaga untuk sekedar membuka jendela kamar atau membuang bungkus makan dari meja kerja yang berantakan. Mungkin juga sama sepertiku, baru beranjak dari tempat tidur setelah asik ngobrol dengan gadis-gadis aneh hingga subuh tadi, menolak ajakan menemani keliling KL sebenarnya kurang mengenakkan hati.
Langit begitu cerah, cahaya matahari pun tak mau kalah menerobos masuk melalui celah gorden yang terbuka. Sedikit membantu kumpulkan nyawaku saat ini.
Langit begitu cerah, cahaya matahari pun tak mau kalah menerobos masuk melalui celah gorden yang terbuka. Sedikit membantu kumpulkan nyawaku saat ini.
Monday, December 15, 2008
Nuansa
Saganggam baras di higa lampau
Rami badatang si burung ayam-ayam
Baimbaian gugur daun kambang kasturi
Tarabang dibawa angin ka hatap rumbia
Imbahnya siang sampai di pahabisan
Hibak babulik matan pandulangan, matan pahumaan
Laki bini duduk basanding
Maitihi anak balajar mangaji
Lilin manyala di atas kaandakan
Sambil mahadang si gangan nangka
Bakumpul, bapandiran sasambil managur nang balalu-lalang
Urang sudah ampihan
Pina sunyi di muka palataran
Lalu banaik ka atas palaminan
Talarut dalam nyanyian bulan tarang
Rami badatang si burung ayam-ayam
Baimbaian gugur daun kambang kasturi
Tarabang dibawa angin ka hatap rumbia
Imbahnya siang sampai di pahabisan
Hibak babulik matan pandulangan, matan pahumaan
Laki bini duduk basanding
Maitihi anak balajar mangaji
Lilin manyala di atas kaandakan
Sambil mahadang si gangan nangka
Bakumpul, bapandiran sasambil managur nang balalu-lalang
Urang sudah ampihan
Pina sunyi di muka palataran
Lalu banaik ka atas palaminan
Talarut dalam nyanyian bulan tarang
Friday, December 12, 2008
Daun Jatuh
Tentu saja aku boleh jujur, jujur kalau dirimu tidak selalu ada dalam pikiranku. Entah karena nilai tukar rupiah yang semakin tidak karuan, mata kuliah yang sama sekali tidak kumengerti, atau apalah itu, membuat pikiranku jadi terbagi.
Tapi untuk saat ini hanya ada kau dan aku. Suka-tidak suka, begitulah adanya. Tak peduli dengan hujan yang sebentar lagi datang.
Kali ini pintaku tidak banyak. Bicaralah padaku sebentar saja, sedikit saja, walau tentang daun jatuh sekalipun...
Tapi untuk saat ini hanya ada kau dan aku. Suka-tidak suka, begitulah adanya. Tak peduli dengan hujan yang sebentar lagi datang.
Kali ini pintaku tidak banyak. Bicaralah padaku sebentar saja, sedikit saja, walau tentang daun jatuh sekalipun...
Wednesday, December 3, 2008
Sungguh, Aku Rindu Kebosanan Itu

Aku yakin sekali, tak ada satupun dapat menggantikan segala rasa yang dulu pernah kita bagi, juga tak seorangpun sanggup melupakan semua cerita kita ketika itu. Tentang gadis penakluk yang paling senang dilolok-olok dua lelaki paling gagah se-Banjarbaru, tentang bocah kacamata yang paling benci jika harus mengucap kata-kata berhuruf 'R', atau tentang si anak kost berambut keriting yang baru saja mengubah gaya rambutnya menjadi semakin unik dan menjadikannya tampil lebih percaya diri.
Kadang lucu juga mengingat semua itu. Ada perang tak berkesudahan, ada rasa cemburu yang berlebihan. Hahah, ada-ada saja.
Kemudian kulukiskan sedikit tentang kenangan, tentang pengalaman menantang maut di malam kelam hutan sejuta kenikmatan. Kulihat kalian serius sekali mendengarkan waktu itu, tenang saja kawan, jangan terlalu dipikirkan. Kisahku takkan berpengaruh terhadap kehidupan kalian. Nantilah, jika ada lagi kejadian, sebisanya kusampaikan dengan segenap bahasa yang sama-sama kita mengerti.
Tapi masalahnya sekarang adalah jarak dan waktu. Komunikasi hanya mengandalkan teknologi yang semakin memperpendek umur saja, bahkan membuat kita bertingkah layaknya orang gila di bundaran simpang empat atau pinggiran jalan A. Yani. Tapi mau bagaimana, tak ada pilihan lain, tak ada cara lain untuk bermain-main.
Sekarang hanya bisa menanti saatnya tiba, saat kita semua saling bicara dan saling bercerita. Walau tanpa suara, tanpa sepatah kata...
Lalu Kenapa Kalau Aku Diam Saja?
Menyapa saat berjumpa itu wajar adanya. Tapi apa kita harus selalu bicara ketika sedang bertatap muka? Tentang keluhan, tentang lelucon yang sangat biasa, atau tentang kebohongan dan kepalsuan yang mengada-ada. Kurasa tidak juga...
Tapi mengapa tetap saja, selalu diulang-ulang, selalu tak pernah bosan. Atau berpura-pura tidak bosan? Mungkin..
Dan sekedar tahu saja. Aku kurang suka dengan pembicaraan yang terlalu dan terkesan dipaksakan. Jadi mengertilah jika aku lebih banyak diam...
Tuesday, December 2, 2008
Januari
Ada sejuta kenangan di bawah sana. Tentang rindu yang menari-nari di atas jelaga. Hingga saat ini, tidak juga beranjak pergi, setelah bosan dan lama menanti. Tunggu aku di pertengahan Januari...
Hah...
Jo.
Fahmi kecelakaan, dirawat di RS Ratu Zaleacha (cek; Zalecha).
Mungkin salah satu cara yg efektif bwt ngumpulin teman2 lawas adalah dgn memacu sepeda motor sekencangnya, trus tabrakin ke tiang listrik atau truk yg lg berhenti...
Subscribe to:
Posts (Atom)